Monday, January 16, 2017

Gaji Kecil? Bagi Menjadi 4 Jenis Pengeluaran Agar Keuangan Keluarga Teratur

Banyak keluarga mengalami susahnya mengatur gaji kecil agar keuangan keluarga stabil dan bisa lebih baik. Seperti pada keluarga Mas Anggar yang ada pada postingan sebelumnya, beliau telah banyak mambantu menjelaskan apa pengertian budget dan bagaimana contoh budget pengeluaran bulanan. Mungkin ada sebagian dari kita yang masih bingung dalam menentukan nilai anggaran belanja bulanan dengan benar. Misalnya, bagaimana saya menentukan anggaran belanja sayuran dan lauk pauk, bayar listrik, ongkos kerja, dll. Tenang, berhubung Mas Anggar sudah izinkan saya untuk share rahasia dapurnya, mari kita sama-sama bahas masing-masing pos pengeluarannya Mas Anggar di sini, yuk.


Contoh Budget/Anggaran Rumah Tangga


Bagaimana Cara Menentukan dan Membagi Pos-Pos Pengeluarannya?

Kelompok 1: Pengeluaran Wajib
Mengapa Mas Anggar menaruh zakat, tabungan, cicilan, biaya sekolah, dan sumbangan ditaruh di kelompok pengeluaran wajib? Ini adalah karena skala prioritas. Artinya jenis biaya/pengeluaran di kelompok ini harus ditunaikan paling dahulu dibanding pengeluaran yang lain.
kelompok 1: Pengeluaran Wajib
- Cicilan rumah, motor, dan iuran sekolah TK harus dibayar yang paling pertama. Sebab, jika tidak dibayar cicilan rumah dan motor akan ada denda, sedangkan SPP TK merupakan hak guru dan lembaga TK yang juga harus kita tunaikan.
Besarnya nilai di 3 pengeluaran ini pasti berbeda bergantung kepada pilihan rumah, motor, dan jenis TK yang kita pilih. Dalam kasus ini, rumah Mas Anggar adalah rumah Subsidi dengan cicilan flat 900rb an, dan sekolah TK yang tak mahal.
- Persentase Zakat sebesar 2,5% adalah ketentuan. Persentase tabungan jumlahnya ditentukan sesuai kesepakatan pasangan Anda, dan melihat dari jumlah penghasilan dan banyak atau sedikitnya pengeluaran di keluarga Anda. Para pakar keuangan sih bilang, biasanya 10% dari gaji. Dan mulai naik seiiring perubahan gaji yang semakin besar.
- Menentukan nilai untuk sumbangan ke orangtua ini agak kompleks, kalau di keluarga Mas Anggar, keluarga besar mereka rembukan,
mereka saling terbuka dalam masalah ini. Jumlah sumbangannya disesuaikan dengan kebutuha orangtua dan kemampuan masing-masing anaknya. Misalnya Kebutuhan orangtua adalah 2jt per bulan, orangtuanya punya 3 anak: Mas Anggar mampu menyumbang 300rb per bulan, anak yang lain sisanya sesuai kemampuan mereka juga. Jika dari ketiga anaknya tidak genap 2 jt per bulan, percayalah selalu ada jalan untuk usaha kita dalam menunaikan kewajiban kepada orangtua, bisa saja dari kita yang menilai level kemampuan diri kita masih kurang. Lalu kita pun termotivasi untuk mencari penghasilan lain atau bekerja sepenuh hati untuk karir yang lebih baik.

Kelompok 2: Pengeluaran Harian
Kelompok 2: Pengeluaran Harian
Sesuai dengan namanya, Pengeluaran Harian adalah biaya/pengeluaran yang rutin selalu ada setiap hari. Contoh: Belanja sayur mayur, uang jajan anak, ongkos angkot, rokok (bagi yg merokok), dsb.
Cara menentukan berapa nilai setiap posnya, sesuaikan dengan kebutuhan anda dan harga di sekitar tempat tinggal anda. Istri mas Anggar tinggal di Bogor, dalam sehari rata-rata kebutuhan sayur mayur merka habis sekitar 30-40rb dengan menu yang wajar: Ayam setengah ekor, sayur, tempe, bumbu. Atau kombinasi Ikan, tahu tempe, sayur, bumbu.
Biaya belanja sayur 30-40 rb sehari ini, saya yakin dibanding orang yang bilang “ini mahal” akan lebih banyak orang yang bilang, “kok bisa murah?” Setiap daerah pasti berbeda, dan biaya konsumsi adalah biaya variable, yakni semakin banyak anggota keluarga semakin banyak kuantitas belanjaannya.


Kelompok 3: Pengeluaran Mingguan
Kelompok 3: Pengeluaran Mingguan
Pengertian sederhananya adalah biaya yang biasanya dikeluarkan tidak setiap hari bisa 3 hari sekali bisa juga seminggu sekali. Contohnya: Bensin, jalan-jalan, makan dluar, bertamu, silaturahim, dll. Bensin bisa saja beli tiap hari, tapi seringnya orang isi bensin hampir full tangki untuk beberapa hari.
Contoh perhitungan bensin Mas Rangga: dengan harga bensin 6rb – 7rb ia menghabiskan 30rb sampai 35rb per minggu. Jarak rumah ke kantornya 20-25 km. Biasanya dia isi bensin 4 liter dengan nilai 25rb – 30rb bisa untuk 4-5 hari kerja.  Untuk bensin di hari weekend, dia biasa memakai jatah mingguan (budget jalan ke luar rumah).
Saya sendiri pun pernah mencobanya dengan motor matic vario, jarak dari rumah ke kantor 23km-an. Hari senin pagi saya isi full tangki, habis di jumat sore. Setiap motor bisa saja berbeda konsumsi bensinya, maka mudah saja, kita tinggal atur sesuai standar konsumsi kendaraan kita untuk setiap minggu-nya.
Pergi ke luar rumah saat weekend tidak selalu harus ke tempat mahal. Sekedar datang ke kuliner dekat rumah yang ramai dan murah pun sudah cukup. Banyak orang pun lebih suka dengan kegiatan yang murmer. Membeli Sop ayam Pak Min Klaten di Bogor untuk 3 porsi plus nasi hanya 64rb, sudah plus minum. Beli mie ayam bakso yang rame dan khas di Bogor untuk 3 porsi hanya 55rb, sudah plus minum. Bahkan gratis untuk sekedar nongkrong di pinggir Setu atau danau sambil bawa bekel makan. Lebih seru seperti, hal sederhana tapi sama-sama bahagia. Tapi jika ingin traveling yang jauh dan membutuhkan biaya, ini perlu disiapkan budgetnya tersendiri. Saya akan bahas nanti di tulisan yang lain.

Kelompok 4: Pengeluaran Bulanan
Kelompok 4: Pengeluaran Bulanan
Belanja beras, detergen, kopi, teh, gula, dan barang consumable lainnya bisa kita atur beli sekaligus atau sebulan sekali bisa juga diatur berapa minggu sekali. Begitu pula dengan biaya keamanan dan lingkungan RT, biaya pulsa listrik dan hape, dsb. Banyak yang terjebak di pengeluaran belanja bulanan ini, biasanya hal ini Karena yang bersangkutan belum begitu mengerti mana kebutuhan dengan mana yang keinginan. Kebutuhan jika tidak terpenuhi imbasnya akan mengganggu aktivitas kita. Sedangkan jika keinginan, tanpa kita membeli barangnya pun, kita akan fine-fine saja.
Pada umumnya cara kita menentukan berapa nilai budget di pengeluaran bulanan ini berdasarkan pada trend atau kebiasaan kita. Misalnya, dalam sebulan beras kita habis 10kg, dengan beras merk A harga 130rb. Maka nilai ini bisa kita ambil sebagai nilai budget.
Tapi ingat, kondisi bisa saja tidak sesuai misalnya pada bulan depan kita kedatangan saudara yang silaturahim ke rumah kita dan menginap. Budget membeli beras perlu disesuaikan.


Dana Darurat atau Biaya Tak Terduga
Dalam membuat anggaran, ada tips kecil yang mungkin bisa berguna untuk mengantisipasi pengeluaran yang tidak kita rencanakan. Yakni kita juga siapkan budget “Dana Darurat” atau bisa juga dengan menggunakan istilah “Biaya Tak Terduga”.

Biaya Tak Terduga

Budget “Dana Darurat” atau “Biaya Tak Terduga” ini dibuat untuk mengantisipasi jika ada hal yang terjadi diluar dugaan kita. Contohnya: Orangtua butuh dana tambahan, kendaraan rusak, saudara menginap di rumah kita, kondangan, dll.
Berapa besar nilai budget “Biaya Tak Terduga” ini adalah disesuaikan dengan sisa dari gaji dikurangi nilai seluruh budget biaya 4 kelompok di atas. Misalnya: Gaji 5 jt. Total Budget Kelompok 1-4 = 4,7 jt. Ada nilai sisa sebesar 300rb, maka nilai tersebut yang menjadi budget “Biaya Tak Terduga” atau “Dana Darurat”. Budget ini tentu tidak pasti, karena bukan pengeluaran rutin per bulan. Oleh karenanya, 300 rb ini bisa saja tidak terpakai. Nah, saat budget ini tidak terpakai, jangan dihabiskan. Simpan kembali untuk menambah tabungan atau untuk menambal budget dari pengeluaran lain yang tekor atau defisit.


Fakta Penting
Sehebat apapun kita dalam membuat budget ini, jika ada yang melenceng di satu pos karena kesengajaan bisa mengganggu budget di pos lainnya. Contoh: Budget jajan anak 10rb per hari, per bulan menjadi 310rb.  Ternyata di beberapa hari anak boros karena jajan es krim yang mahal, atau beli mainan. Sudah pasti jatah 310rb akan berkurang, ini menyebabkan 310 rb tidak akan sampai dalam 1 bulan. Akibatnya, kita mengurangi jatah di pos lain, misalnya mengurangi jatah belanja. Khan jadi ribet ya. Hal ini biasanya akan terjadi, kita sebagai orangtua mana tega ketika anak merengek-rengek minta sesuatu di luar budget. Nah cara mengatasinya, kita tidak usah mengurangi jatah budget yang lain, kita mesti rela ambil uang tabungan untuk menutupinya. Kalo tidak ada tabungan? As we know together lah yah.. minta kucuran dana ke orang lain alias utang. Solusi ini, sebaiknya dihindari. Dan saya pun juga sedang belajar dalam kasus ini, mungkin suatu saat saya bisa share tulisannya di sini.

Ok, untuk kali ini, saya tutup sampai di sini. Mohon saya diizinkan untuk mengingatkan Anda lagi yah, bahwa semua yang kita budgetkan jika tidak ada kesepakatan dengan keluarga rasanya mustahil tujuannya bisa tercapai.

Salaam.
Bersambung…

Next Episode: Cara Siasati budget Belanja saat Harga Barang Naik


No comments:

Post a Comment